Politik
Skandal Bank Century
"Sangat Aneh Jika Boediono-Mulyani Dipecat"
Dia curiga dengan gerakan para politisi pengusung Hak Angket Century.
Kamis, 3 Desember 2009, 11:18 WIB
Heri Susanto

VIVAnews - Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa menilai gerakan-gerakan menggulingkan Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam kasus PT Bank Century sudah jauh melenceng.

"Sangat aneh, jika gara-gara kebijakan bail-out Century, Boediono dan Sri Mulyani dipecat," ujar Yudhi kepada VIVANews di Jakarta, Kamis, 3 Desember 2009.

Dia menekankan kebijakan yang diambil oleh Boediono dan Sri Mulyani untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia adalah kebijakan tepat di masa krisis.
Yudhi menekankan situasi saat itu, kondisi perbankan sudah sangat kritis.

"Kalau kita dihukum gara-gara mengambil kebijakan yang benar, itu konyol namanya," kata Yudhi. Pada saat kebijakan diambil, bisa saja informasinya tidak lengkap. Tetapi seorang pemimpin harus mengambil keputusan yang baik bagi perekonomian negara ini.

Dia mengingatkan penggantian pejabat negara karena mengambil kebijakan yang benar merupakan pendidikan yang buruk bagi bangsa ini. Jangan lupa ini akan berimplikasi jangka panjang.

"Pejabat-pejabat berikutnya tidak akan berani mengambil kebijakan karena takut disalahkan atau dihukum," katanya. Jika itu yang terjadi, maka sistem perekonomian Indonesia akan mudah digoyang oleh orang luar. "Kalau ada badai ekonomi datang, kita tak punya pertahanan karena semua pejabat takut ambil kebijakan."

Yudhi mengingatkan agar para politisi tidak bermain-main untuk kepentingan jangka pendek dengan tujuan kekuasaan. "Itu benar-benar sangat konyol."

Dia curiga dengan gerakan para politisi pengusung Hak Angket Century. Sebab, sejak awal sudah memiliki target untuk menggusur Menkeu dan Wapres. "Angket baru dimulai, kok sudah punya target."

Untuk menilai kondisi perbankan saat itu, Danareksa mempunyai indikator Banking Pressure Indeks untuk mengukur tekanan perbankan. Semakin tinggi, indeks-nya, maka perbankan semakin rentan. Indeks yang wajar berada di bawah 0,5, semakin kecil semakin bagus.

Namun, pada posisi Oktober 2008, indeks tekanan perbankan sudah di level 0,9. Itu berarti kondisi bank sudah sangat rentan. Untuk mengatasi ini, BI sudah harus melakukan perubahan-perubahan kebijakan, bahkan sejak enam bulan sebelumnya.

"Sebab, ada satu bank jatuh saja, maka akan merembet ke bank-bank lain karena orang gampang pindahkan simpanannya ke luar negeri."

Apalagi, saat itu Indonesia tidak melakukan kebijakan penjaminan simpanan secara penuh seperti dilakukan negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia hingga Australia. "Pertahanan sistem keuangan kita sangat rapuh. Saat itu, hampir tidak ada."

heri.susanto@vivanews.com

• VIVAnews
Rating
Komentar
tuti
03/12/2009
betul pak. politisi itu kan melihatnya sekarang.........apakan maruarar sirait sangat paham kondisi ekonomi wakti itu?? bukan sekarang..........
Balas
anuar
03/12/2009
Dua sudut padang yang berbeda tentang kebijakan bail-out Century membuat persoalan bertambah pelik, seharusnya hal ini tidak perlu diperdebatkatkan lagi karena yang berkompeten, dalam hal ini BPK telah menerbitkan Hasil Auditnya dan semua sudah terang men
Balas
Cah gemblung
03/12/2009
Betul pak, spertinya orang yg berteriak diluar sana yang meminta Boediono & Sri Mulyani hanya orang2 tolol yg gak ngerti sepert peri bahasa "tong kosong nyaring bunyinya"
Balas
Amir
03/12/2009
maklum masalahnya sudah dipolitisir, banyak org2 yg kecewa (sakit hati) ga dapet jabatan... Saya merasa poli tikus2 cuma cari sensasi. klau memang ada penyimpangan serahkan sepenuhnya kepada penegak hukum. terimakasih
Balas
Endy
03/12/2009
Lebih aneh lagi kalo memang bener terbukti mengambil kebijakan yg menguntungkan sekelompok orang, tapi dibiarin ...
Balas
muhammad fauzi firmansyah
03/12/2009
kalau tidak etis dipecat,jikalau merasa bersalah sebaiknya memang mundur/resign saja supaya masalahnya clear & demo masyarakat bisa mereda, dan tidak mengganggu kinerja pemerintahan SBY.
Balas
Kirim Komentar
   
Nama
Email
Komentar
 
  Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
 
 
  *Jika anda member Vivanews, silahkan  atau