SBY-Boediono
Bintang Asia Yang Kian Bersinar
Saat menjadi Menkeu, Boediono sukses membawa ekonomi Indonesia pulih dari krisis.
Jum'at, 22 Mei 2009, 11:05 WIB
Wenseslaus Manggut, Agus Dwi Darmawan, Nur Farida Ahniar, Muhammad Hasits, Elly Setyo Rini
Gubernur BI Boediono (Fanny Octavianus)

VIVAnews - GERBONG tua K1-67502 di Kereta Parahyangan menjadi saksi sejarah. Pada Jumat, 15 Mei 2009, gerbong berusia 42 tahun itu menghantarkan calon wakil presiden Boediono ke Bandung. Bersama calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya akan mendeklarasikan pencalonan mereka sebagai pasangan capres-cawapres 2009-2014 di Sasana Budaya Ganesha, Bandung pada pukul 19.00 WIB.

Meski bergaji lebih dari Rp 100 juta per bulan sebagai Gubernur BI, Boediono tidak risih menumpang kereta bertarif Rp 45 ribu per tiket. Padahal, dinding gerbong sudah kusam penuh noda hitam, lantai berkarpet plastik biru yang berubah warna jadi kehitaman karena debu menggumpal, kaca jendela retak di seberang kursi Boediono, engsel pintu rusak, toilet bau pesing, hingga kecoa yang tiba-tiba muncul.

Mengenakan jaket warna krem dan kemeja merah, Boediono tetap menikmati perjalanan selama 3 jam dari stasiun Gambir, Jakarta menuju Bandung. Meski lebih banyak mendengar, ia membaur dan terlibat dalam obrolan bersama rombongan pemimpin redaksi media massa dan ekonom. Sesekali ia tertawa lepas mendengar guyonan Rizal Mallarangeng, Tim Sukses Boediono. Menjelang kereta tiba di Bandung, Boediono pun menyempatkan diri ke toilet.

“Kereta api itu nyaman, saya suka cerita kereta itu transportasi ternyaman,”  kata Boediono saat turun di stasiun Bandung.

Kereta api memang bukan barang baru bagi guru besar FE UGM Jogjakarta itu. Saat menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Menteri Keuangan, ia tak jarang pulang ke Jogjakarta untuk mengajar dengan menumpang kereta atau pesawat kelas ekonomi. Sang istri, Herawati setia menjemput di stasiun atau bandara dengan menyetir sendiri sedan buatan 1990-an. 

Faisal Basri dan M Ikhsan pernah melihat Boediono dijemput istrinya saat pulang ke Jogjakarta. Dalam blognya, Faisal menulis ia pernah satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Boediono masih Menteri Keuangan. “Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka,” kata Faisal.

Tak ada yang meragukan kesederhanaan seorang Boediono. Apalagi, bagi para jurnalis yang biasa liputan ekonomi di Departemen Keuangan, Bappenas atau Kantor Menko Perekonomian. Itu jelas terlihat dari kebiasaaan Boediono ke kantor, baik saat ia menjabat Kepala Bappenas, Menteri Keuangan hingga Menteri Perekonomian. Ia jarang sekali terlihat memakai sedan Volvo hitam mulus seperti menteri lainnya. Yang selalu menemaninya ke kantor adalah mobil pribadi Toyota Crown tua.

Rumahnya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta, menurut M Ikhsan, mantan staf khusus Boediono juga memberi bukti lain. Luas tanahnya sekitar 400 meter persegi dan bangunan 300-an meter persegi. “Tapi, rumahnya biasa saja, sangat jauh jika dibandingkan rumah seorang menteri,” katanya. “Kursi di rumahnya pun ada yang bolong dan lusuh.”

***

Sederhana. Itulah salah satu dari banyak alasan mengapa SBY memilih Boediono sebagai calon pendampingnya untuk bertarung dalam pemilihan umum capres pada 8 Juli mendatang. Pilihan ini pula yang menyebabkan nama Boediono semakin bersinar dan menjadi sorotan publik dalam tiga pekan terakhir.

SBY dalam pidato politik saat deklarasi pencalonannya menyatakan, selain sederhana, Boediono adalah sosok muslim yang lurus, jujur, bersih, konsisten dan toleran.

Boediono, kata Yudhoyono, juga seorang yang cerdas, ulet, pekerja keras dan bertanggungjawab. Saat menjabat Menko Perekonomian, SBY mengenal Boediono sebagai seorang koordinator menteri yang berpikir utuh, loyal, cermat, tidak grusa-grusu (serampangan) dan jauh dari keinginan duniawi.

Pujian SBY bukan tanpa dasar. Sebagai seorang muslim, Taufik Razen, budayawan Bandung mempunyai kisah tentang Boediono saat kuliah di UGM. Ketika itu, ia pernah menggelar diskusi tentang ekonomi Pancasila yang akan menghadirkan Boediono sebagai pembicara. Saat itu, Boediono terlihat habis wudhu dan sholat. Namun, dosen ekonomi UGM  ini seperti tak mau memamerkan ritual muslim yang baru saja dijalaninya.

Sebagai seorang pejabat yang bersih, menurut Ikhsan, Boediono tidak pernah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Saat menjadi Menteri Keuangan,kata Fasial Basri, Boediono juga pernah memerintahkan  Anggito Abimanyu agar tidak memberikan amplop ke DPR. “Boediono pula yang merintis reformasi birokrasi di Depkeu, sebagai upaya besar mencegah budaya korupsi,” kata Faisal.

Saat menjabat Menko Perekonomian, pernah suatu ketika Boediono wawancara dengan sebuah media. Ketika itu, dilaporkan bahwa di kantor Menko Perekonomian juga terdapat rekening liar. Boediono yang tampak kaget mendengar kabar itu langsung memanggil Komara Djaja, sekretaris Menko Perekonomian. Saat itu juga Boediono perintahkan pada Komara agar rekening itu segera ditutup.

Boediono, menurut Faisal Basri, juga bukan orang yang gila jabatan. Setelah masa tugasnya sebagai Menteri Keuangan selesai di bawah pemerintahan Megawati, Boediono kembali ke kampus. Namun, setahun SBY berkuasa sejak 2004, lonjakan harga minyak global membuat ekonomi gonjang-ganjing, sehingga SBY kembali melirik Boediono.

Boediono saat itu tidak bersedia. Bahkan, kabar yang beredar SBY sampai mengirim staf khusus untuk membujuk Boediono. Sejumlah ekonom kolega Faisal juga turut membujuk begawan ekonomi itu agar bersedia kembali ke pemerintahan. Istrinya, Herawati tentu saja turut dibujuk. “Waktu itu, Boediono menunjukkan sinyal penolakan karena ia merasa sudah cukup tua,” kata Faisal. Untunglah, akhirnya Boediono bersedia.

Cerita yang hampir mirip juga terjadi saat Boediono diminta menjadi Gubernur BI atau calon Wakil Presiden seperti sekarang. Ketika diusulkan untuk jabatan Gubernur BI, Boediono juga terpaksa dipanggil lantaran dua calon yang diusulkan SBY, yakni Raden Pardede dan Agus Martowardojo ditolak DPR.

Begitupun saat diminta menjadi calon Wakil Presiden SBY. Presiden juga harus melalui proses yang bertahap dan panjang agar ekonom senior itu bersedia mendampinginya. Saat dikonfirmasi soal itu, Boediono tak membantahnya. “Saya tentu harus minta persetujuan dari keluarga,” kata Boediono, Jumat malam seusai deklarasi duet SBY-Boediono.

***

Sebagai pejabat di jajaran tim ekonomi yang pernah bekerja di lima presiden, mulai Soeharto, Habibie, Abdurrahman-Gus Dur-Wahid, Megawati, hingga SBY, pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 23 Februari 1943 ini memang memiliki pengalaman paling lengkap. Mulai menjadi direktur BI di jaman Soeharto, Ketua Bappenas di masa Habibie, Anggota Dewan Ekonomi Nasional di era Gus Dur, Menteri Keuangan di jaman Megawati, hingga Menko Perekonomian saat RI dipimpin Yudhoyono.

Ketika menjabat Menteri Keuangan, ekonom yang mendapatkan gelar Doktor Ekonomi Bisnis di Wharton School, University of Pennsylvania, AS itu berhasil membenahi fiskal, kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi. Padahal, Boediono diwarisi ekonomi yang amburadul di era Gus Dur.

Namun, ekonom senior ini berhasil menstabilkan kurs rupiah pada kisaran Rp 9000-an per US$, suku bunga rendah sehingga pertumbuhan ekonomi naik signifikan. Bahkan, pada triwulan keempat 2004, ekonomi tumbuh 6,65 persen, tertinggi sejak krisis. Tak mengherankan jika majalah Business Week (AS) sempat memberinya gelar tokoh yang kompeten di bidang keuangan. Boediono menjadi bintang Asia versi Business Week pada 2003.

***

Sikap Boediono yang kalem, sederhana, tidak neko-neko, dan tak banyak bicara memang menimbulkan berbagai tudingan miring. Banyak ekonom atau pengusaha yang menilai Boediono lamban.

Sebagai bukti, mereka pun menunjukkan beberapa contoh. “Misalnya, proyek-proyek infrastruktur yang gagal,” ujar ekonom Indonesia Bangkit, Fadhil Hasan kepada VIVAnews, 14 Mei 2009.

Proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt juga bisa cepat jalan lantaran gebrakan wakil Presiden Jusuf Kalla yang dikenal tangkas dan mampu bergerak cepat. “Boediono itu tergolong mantan menteri tanpa terobosan,” kata Fadhil. “Ia bukan tipe orang yang berani dan tegas mengambil keputusan.”

Padahal, Fadhil mengingatkan ekonomi Indonesia menghadapi tantangan berat akibat krisis keuangan global. Ekonomi juga menghadapi masalah kemiskinan, pengangguran dan minimnya infrastruktur. "Untuk menghadapi problem ini diperlukan figur yang berani dan punya terobosan."

Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Benny Soetrisno. “Boediono itu kurang menggigit,” katanya. Gigitan dimaksud adalah orangnya sangat hati-hati sehingga cenderung tidak melakukan langkah progresif dan lebih banyak menyerahkan ke pasar.

Kelemahan lainnya, menurut Fadhil dan Benny, adalah Boediono adalah ekonom yang profesional, bukan ekonom yang politisi. Ini akan menyulitkan pemerintah untuk meyakinkan parlemen.

“Bagaimana nanti menghadapi DPR, kalau tidak paham politik,” kata Benny balik bertanya. Apalagi, kata Benny, Boediono tidak memiliki kekuatan di pemilih akar rumput. Ini mungkin bisa menjadi sumber kesulitan bagi pasangan SBY-Boediono untuk meraup suara.

Tudingan yang tak kalah pedas adalah soal Boediono yang dianggap sebagai ekonom neolieberal. Kendati bukan lulusan Universitas Berkeley, ia pun dianggap menjadi bagian dari mafia Berkeley karena pernah bekerja dan merupakan didikan tokoh-tokoh lulusan universitas tersebut. 

Ekonom UGM Revrisond Baswir pun memberikan bukti. Saat menjabat Menteri Keuangan di era Megawati Soekarnoputri, Boediono menyetujui atau membiarkan privatisasi berjalan kencang. Saat itu, Menteri BUMN memang Laksamana Sukardi yang mendorong privatisasi BUMN. "Tetapi, Menteri Keuangan tentu tidak bisa diam saja."

Selama dia menjabat sebagai Menteri Keuangan dan kemudian Menko Perekonomian, Undang-Undang yang dilahirkan, menurut Revrisond, adalah UU yang pro investor asing. UU itu mencakup UU Migas, UU Kelistrikan, hingga UU Penanaman Modal. "UU tersebut lebih banyak memberikan kemudahan kepada investor asing."

Begitupula sepanjang Indonesia berada dalam program Dana Moneter Internasional (IMF). Menurut dia, sejak Indonesia mengalami krisis pada 1998 hingga saat ini, Boediono hampir selalu di dalam pemerintahan. "Lihat saja selama Boediono di pemerintahan, dia menjadi pelaksana agenda IMF," kata dia. "Apa pernah Boediono melakukan perlawanan terhadap IMF?"

Tudingan ini tentu saja menjadi makanan empuk para politisi. Karena itu, tak mengherankan terpilihnya Boediono sempat menimbulkan kontroversi berkepanjangan, terutama dari para politisi dan ekonom pro kerakyatan, serta tentu saja kubu Prabowo Subianto. Kendati tudingan itu juga dibantah habis oleh kubu pendukung Boediono, seperti Faisal Basri.

***
Anton Gunawan, Kepala Ekonom PT Bank Danamon mengakui memang ada kelemahan Boediono sebagai teknokrat yang lamban dan bukan politisi. Namun, ia menekankan kelemahan itu bukan tak bisa diatasi. Itu bisa diimbangi dengan menteri-menteri ekonomi yang mampu bergerak cepat dan bisa mengelola politik. “Ekonom-ekonom seperti Sri Mulyani yang tegas merupakan orang yang pas untuk membantu Boediono,” kata Anton.

Tak jelas memang apakah duet SBY-Boediono bakal menerima simpati dan suara rakyat pada pemilu Juli mendatang. Yang pasti, pro kontra soal terpilihnya Boediono tampaknya masih akan mengemuka. Apalagi, di tengah ancaman krisis ekonomi global yang terus mendera, serta kemiskinan dan pengangguran yang menjulang tinggi. Apakah Boediono berhasil memperbaikinya juga masih menunggu waktu.

Namun, di Sabuga, dalam pidatonya Boediono terngiang “Indonesia Menggugat”, pledoi Soekarno saat diadili pada awal abad 20, yakni pada 1930 terkait perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme yang membuat Indonesia terbelenggu.

Di awal abad ke-21 ini,  Indonesia juga selayaknya menggugat. Kini, kata Boediono, yang kita gugat adalah penjajahan oleh kekuatan dari luar dan dari dalam, yang membuat kita merasa terpuruk, merasa tidak bisa bangkit memperbaiki diri.

"Padahal kita mampu, padahal kita sanggup," katanya lantang. Dia pun berjanji akan selalu bekerja untuk membuat Indonesia lebih sanggup, untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, kesewenang-wenangan, dan keterpurukan.

Pidato Boediono

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.