Budiono: Neolib Tak Cocok untuk Indonesia
Dunia ini dibangun dengan isme-isme. Tapi bukan masalah isme ini yang diperdebatkan.
Selasa, 26 Mei 2009, 20:59 WIB
Suwarjono, Sandy Adam Mahaputra
  (Andika Wahyu)

VIVAnews - Calon Wakil Presiden Boediono diserang oleh lawan-lawan politiknya sebagai tokoh yang menganut paham neloliberalisme.

Diterpa tudingan bertubi-tubi, mantan Gubernur Bank Indonesia ini tetap tenang. Baginya, neolib hanya istilah saja.

"Dunia memang dibangun dengan isme-isme. Tapi bukan itu yang diperdebatkan, karena tidak ada ujungnya. Yang kita tekankan lebih ke pangan, ekonomi dan transportasi," kata Boediono kepada VIVAnews di sela acara diskusi dengan blogger di Wetiga, Jalan Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa 25 Mei 2009.

Dijelaskannya, neolib itu meminimkan peran pemerintah dan liberalisasi di pasar. "Ini tidak cocok di Indonesia," katanya.

Namun,  selama birokrasi di pemerintah belum baik, kenapa tak diserahkan ke pasar. Artinya harus ada keseimbangan. "Ideologi saya jelas, perekonomian yang mengedepankan kepentingan rakyat Indonesia. Artinya harus ada keseimbangan antara pemernitah dengan pasar," kata mantan Menko Perekonomian ini.

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.