Pemilihan Presiden 2009
Perang Survei Kian Sengit
Perang survei makin bergolak. Independensi lembaga survei kian dipertanyakan.
Selasa, 9 Juni 2009, 10:22 WIB
Edy Haryadi
Lembaga Survei Indonesia (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews – Menjelang pemilihan presiden tanggal 8 Juli, perang survei kian sengit. Namun pada saat yang sama banyak yang mempertanyakan independensi lembaga survei tersebut.

Lembaga pertama yang merilis hasil survei adalah Lembaga Survei Indonesia (LSI). Menurut survei LSI tanggal 25-30 Mei 2009, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono paling banyak dipilih oleh 70 persen responden. Disusul Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto 18 persen dan Jusuf Kalla-Wiranto 7 persen.

Survei itu melibatkan 3 ribu responden dengan teknik multistage random sampling. Sampel yang berhasil dan bisa dianalisis 2999. Dengan jumlah sampel ini, dengan asumsi simple random sampling, penelitian ini diklaim memiliki margin of error sebesar kurang lebih 1,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen,

Tak berapa lama, Lembaga Riset Informasi (LRI) juga mengumumkan hasil survei.  Berbeda dengan hasil LSI yang menyebut pasangan SBY-Boediono akan menang dalam satu putaran, LRI menilai pemilihan presiden akan berlangsung dua putaran.

Pasalnya, tidak ada pasangan yang meraih angka mutlak.  Pasangan SBY-Boediono hanya memperoleh 33,02 persen.  Sementara pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang  dalam survei LSI hanya memperoleh 7 persen, dalam riset LRI melejit ke peringkat kedua dengan hasil 29,28 persen. Baru di peringkat ketiga pasangan Megawati-Prabowo dengan perolehan 20,09 persen.

Survei LRI dilakukan 2-5 Juni 2009 dan menggunakan metode teknik sampling gugus bertahap. Melibatkan 2.096 responden berusia 17 tahun ke atas atau telah menikah dengan estimasi margin of error 2,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Persoalannya, LSI dinilai terlalu condong ke pasangan Yudhoyono. Apalagi LSI mengakui biaya riset kali ini dibiayai Fox Indonesia, lembaga konsultan politik pemenangan pemilu SBY. Sementara pimpinan LRI, Johan O Silalahi juga dinilai dekat dengan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Melalui Yayasan Johan Silalahi, Johan terlibat dalam pembuatan iklan pencitraan pasangan Kalla-Wiranto.

Namun tudingan itu ditolak LSI. Menurut Burhanuddin Muhtadi, peneliti senior LSI, pengakuan pembiayaan riset dilakukan LSI sebagai bentuk pertanggungjawaban lembaga pada publik. Dengan membuka sumber dana survei, publik bebas mau menghubungkan atau memisahkan sumber dana dengan hasil penelitian.

Lagi pula, "Sponsor boleh memberikan bantuan pendanaan untuk melakukan survei sepanjang tidak melakukan intervensi terhadap data," kata Burhan. Dia juga menegaskan, metodologi survei LSI sudah dilakukan secara tepat.

Johan sendiri membantah biaya riset LRI diongkosi oleh pasangan Kalla-Wiranto.

Sementara, hasil survei Lembaga Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang mengaku tak dibiayai oleh siapa pun, menemukan pasangan SBY-Boediono masih memimpin dengan perolehan 54,9 persen.  Sementara pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto di posisi dua dengan perolehan 9,7 persen dan Jusuf Kalla-Wiranto di tempat ketiga dengan perolehan  6,8 persen.

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.