Ita Lismawati F. Malau, Bayu Galih
|
|
Andi Mallarangeng (www.presidensby.info) |
|
VIVAnews - Monolog Butet Kertaradjasa yang ditampilkan saat Deklarasi Pemilu Damai ternyata kurang berkenan bagi Partai Demokrat dan tim sukses SBY - Boediono. Ketua DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng bahkan menganggap monolog itu merupakan tambahan visi yang disampaikan tim Mega Prabowo.
"Saya pikir yang menyampaikan visi hanya capres dan cawapres saja. Ternyata ada yang butuh tambahan orang untuk menyampaikan visi," ujar Andi usai deklarasi pilpres damai di Gedung Bidakara, Jakarta, Rabu malam, 10 Juni 2009.
Tim SBY - Boediono, kata Andi, telah memenuhi aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menyampaikan visi capres dan cawapres selama 10 menit. "Mungkin waktunya dianggap kurang," ujar Andi.
Meski demikian, Andi mengatakan belum tahu apa akan mengajukan protes. "Kita lihat saja nanti," ujar Andi.
Sebagai pembuka, tim kampanye Megawati Prabowo mempersembahkan acara kesenian berupa monolog dari seniman Butet Kertaradjasa.
Sentilan pertama Butet adalah tentang utang. Butet mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya dengan kebudayaan. Untuk itu Butet meminta pemimpin terpilih menjaga kekayaan dan keanekaragaman budaya. "Bukan malah kaya dengan utang," ujar Butet yang disambut riuh hadirin.
Selanjutnya, Butet juga menyentil Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dianggap tidak mampu dalam menyelenggarakan pemilu. "KPU memang konsisten, yaitu konsisten untuk tidak capable," ujar seniman asal Yogya ini. Butet juga mengungkit masalah daftar pemilih tetap (DPT).
• VIVAnews