|
VIVAnews - Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Syamsuddin Haris, berpendapat kampanye jangka pendek hanya efektif di kelas menengah perkotaan. Kelas bawah lebih sulit berubah sikap.
"Identifikasi kelas bawah atas kandidat sudah tertanam sejak lama," kata Syamsuddin dalam sebuah diskusi di gedung Dewan Perwakilan Daerah, Senayan, Jakarta, Jumat 12 Juni 2009. "Jadi, kalau mereka menganggap SBY lebih baik, kandidat lain bicara apapun, itu sudah tidak mempan."
Jadi, pergeseran pilihan lebih banyak terjadi di kelas menengah perkotaan ketimbang kelas bawah. Figur menjadi faktor penting bagi kelas bawah. "Dalam pemilihan langsung seperti ini, popularitas figur memang yang paling utama, karena popularitas sejalan dan saling mendukung dengan tingkat elektabilitas kandidat," ujar Syamsuddin.
Bila dikaitkan dengan hasil survei yang memperlihatkan kenaikan popularitas JK dan Megawati, menurut Syamsuddin, kenaikan tersebut belum signifikan. Apalagi hasil survei tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan memanasnya suhu politik.
Dengan demikian, semua model pendekatan kampanye menjadi penting, baik melalui media ataupun dalam bentuk kampanye terbuka. Tapi dalam era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini, kampanye melalui media merupakan bentuk kampanye yang jangkauannya paling luas. "Kalau pasangan calon hanya fokus pada kampanye terbuka tanpa didukung oleh kampanye media, maka tidak akan bisa menggalang dukungan."
Sebagai perbandingan, siapa calon presiden yang mengakar di kelas bawah berdasarkan pendapatan, lihat sebuah survei beriku. Jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia atas kalangan wong cilik yang berpenghasilan di bawah Rp 400 ribu, SBY-Boediono unggul 59,5 persen. Sedangkan Megawati-Prabowo sebesar 18,3 persen dan duet JK-Wiranto hanya memperoleh 6,3 persen.
arfi.bambani@vivanews.com