Mega 100 persen setuju dengan JK. Sedang SBY sependapat dengan JK dan Mega.
|
|
Debat Capres (VIVAnews/Tri Saputro) |
|
VIVAnews - Lunturnya solidaritas putra daerah dan munculnya peraturan-peraturan daerah yang mengacu pada agama tertentu jadi pertanyaan dalam debat calon presiden malam ini, Kamis 2 Juli 2009.
Menurut Jusuf Kalla, kekuatan Indonesia justru pada perbedaan. "Lambang Bhinneka Tunggal Ika berada di atas gambar presiden. Gambar JK bisa diganti-ganti, tapi lambang bhinneka tidak bisa diganti," kata Jusuf Kalla di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis 2 Juli 2009.
Kata JK, kita butuh kebangsaan yang plural, dia juga menyindir pernyataan bahwa suku tertentu belum saatnya jadi presiden. "Siapapun boleh memimpin bangsa ini. Suku tertentu dikatakan tak boleh jadi presiden, sangat berbahaya. Kita balik ke jaman rasialis," kata JK.
Ditambahkan dia, tak ada yang boleh mengganggu kebhinnekaan yang jadi kekuatan bangsa. "Mari berpikir jernih, bukan berpikir picik," tambah dia.
JK juga yakin putra-putra daerah akan selalu solid. JK lantas mengusulkan terobosan. "Harus ada pegawai nasional. Pegawai golongan empat bisa dipindah-pindahkan ke seluruh Indonesia, boleh bekerja di Makassar, di Jakarta," tambah dia.
Bagaimana tanggapan Mega? "Kalau urusan ini saya 100 persen sama Pak JK," kata Mega. Menurut dia, keanekaragaman adalah perekat bangsa.
Sementara, SBY juga sepakat dengan pernyataan JK dan Mega. "Tidak, tidak justru pendapat saya dengan Pak JK dan Ibu Mega," kata SBY, ketika moderator menanyakan apakah dia akan mendebat pernyataan dua capres lainnya.
Ditambahkan SBY, setiap kebijakan, aturan tak boleh diskriminasi. Jika itu terjadi, harus ada review. "Perda yang terlalu jauh atur agama tentu tak perlu terjadi," tambah dia.
• VIVAnews