|
VIVAnews - Iklan pemilu presiden satu putaran jadi topik panas dalam debat calon presiden pamungkas yang diselenggarakan pada Kamis 2 Juli 2009. Bahkan sebelum sesi debat dimulai, Jusuf Kalla sudah menyindir iklan pilpres satu putaran demi menghemat Rp 4 triliun.
SBY lantas menyatakan iklan pemilihan satu putaran bukan dari dia. "Denny J.A [Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia] datang ke Cikeas kok. Jadi masa' SBY tidak tahu tentang iklan itu sementara Cikeas tahu?," celetuk Anggota Tim Sukses JK-Wiranto, Indra J. Piliang dalam acara Dialektika Demokrasi di DPR bertajuk "Setelah Musim Kampanye Usai - Mencermati Janji, Iklan, dan Peluang", Jumat 3 Juli 2009.
Sebelumnya Pakar Marketing Politik Universitas Indonesia, Firmanzah mengatakan sebenarnya tidak ada masalah dengan iklan satu putaran jika iklan tersebut tidak dikeluarkan oleh salah satu tim sukses.
"Persoalannya, iklan tersebut adalah hasil survei dari tim sukses, digambarkan seolah-olah sebagai representasi keinginan publik, dan memberi ruang bagi publik untuk berpartisipasi dalam menjadikan hal tersebut kenyataan. Dengan demkian, ada eksploitasi polling guna mengarahkan atau menggiring opini publik," kata dia.
Menurut Firmanzah, kalaupun SBY menang dalam satu putaran, dikhawatir akan terjadi destabilisasi. "Tapi kejadiannya akan berbeda bila iklan satu putaran tersebut dibuat oleh tim independen," lanjut dia.
Dikatakan Firmanzah, sebaiknya pada pemilu berikutnya tahun 2014, lembaga polling dan konsultan politik harus dibenahi dan dibuat aturan mainnya, sehingga ada pemisahan fungsi yang lebih jelas. "Yang ingin menjadi konsultan politik, jangan merangkap jadi lembaga polling, demikian pula sebaliknya," tambah dia.
Dalam debat semalam, JK mengecam iklan pemilihan satu putaran dengan alasan menghemat anggaran Rp 4 triliun. Menurut JK pemikiran yang menghitung demokrasi dalam ukuran uang seperti itu bisa berbahaya. "Saya mohon maaf, nanti 2014, saya khawatir ada iklan lanjutkan terus tanpa Pilpres demi menghemat Rp 25 triliun," kata JK.
Sementara SBY mengklarifikasi kecaman calon presiden Jusuf Kalla. SBY menyatakan, iklan pemilihan satu putaran bukan dari dia. "Iklan yang Bapak (Jusuf Kalla) maksud, bukan iklan Pak SBY," ujar dia.
JK yang mendapat giliran bicara setelah SBY juga tak menyia-nyiakan kesempatan merespons pernyataan SBY itu. "Saya berterima kasih Pak SBY. Jadi yang beriklan bukan peserta, kalau begitu iklannya ilegal," kata JK. Namun perdebatan kedua pemimpin itu hanya panas di panggung debat. Saat jeda iklan, JK menghampiri SBY, keduanya bersalaman.