|
VIVAnews – Anggota tim kampanye nasional pasangan calon presiden dan wakil presiden, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Rizal Mallarangeng, menolak tawaran mediasi dengan redaksi tabloid Indonesia Monitor karena kasus dugaan penghinaan.
“Sekali comberan tetap comberan. Nanti biar mereka (pengelola tabloid) yang perbaiki diri,” kata Rizal di Bravo Media Center, kantor pusat informasi duet SBY-Boediono, Jakarta, Sabtu 4 Juli 2009.
Kendati menolak berdamai dengan tabloid itu, Rizal tetap bersedia hadir dalam sidang Dewan Pers jika mendapat undangan.
Kasus itu muncul setelah Pemimpin Redaksi Indonesia Monitor, Mulia Siregar, melaporkan pernyataan Rizal ketika ikut kampanye Boediono di Makassar, Rabu 1 Juli 2009, yang dinilai menghina tabloid itu.
Pernyataan yang dinilai menghina ialah menyebut tabloid itu sebagai koran kuning dan comberan.
Rizal mengatakan demikian karena menganggap tabloid itu menyebarkan berita tidak benar. Misalnya, memberitakan secara besar-besaran bahwa Herawati, istri Boediono, beragama Katolik. Padahal, faktanya tidak demikian. Herawati seorang muslim.
Penyebaran artikel itu juga telah memicu ketegangan antara tim pemenangan duet SBY-Boediono dan tim Jusuf Kalla-Wiranto.
Baku tuding dua tim itu terjadi karena foto kopi berita tabloid itu dibagi-bagikan ketika JK tengah berkampanye di Medan, Sumatera Utara, 24 Juni 2009. Tim SBY menilai modus selebaran itu sebagai kampanye murahan. Tapi tim JK membantah habis-habisan.
Tadi pagi, Adi Zein Ginting, orang yang menyebarkan selebaran itu telah minta maaf kepada SBY, Boediono dan Herawati.
• VIVAnews