|
VIVAnews - Cawapres Boediono dalam kampanye akbar terakhir di Jakarta mendapat giliran pidato pertama. Dalam orasi terakhir di Jakarta ini, Boediono menitikberatkan pada kemenangan dan kekalahan semua kandidat dalam Pemilu Presiden (Pilpres).
"Mari kita berharap, bahwa yang menang tidak akan melecehkan yang kalah dan yang kalah tidak akan memusuhi yang kalah," kata Boediono yang mengenakan pakaian merah putih di atas podium panggung utama, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2009.
Boediono pun mengajak semua pendukung untuk berdoa agar proses jalannya Pilpres dapat berjalan dengan teratur dan damai. Siapapun itu yang menang, lanjut Boediono, wajib memberikan peran agar Pilpres dapat berjalan baik dan lancar.
"Kita patut optimis, Pemilu lalu menunjukkan rakyat kita sangat arif, bijaksana dalam memilih wakil dan pemimpin mereka. Rakyat menjaga kedaulatannya karena menolak untuk dibeli. Rakyat menunjukkan kecerdasannya, karena tidak terperdaya janji-janji yang muluk," ujar Boediono.
Menurut Boediono, pasangan capres-cawapres SBY-Boediono sangat menyadari hal itu. Bagi kandidat capres-cawapres nomor urut 2 ini, demokrasi adalah kehormatan kepada kearifan dan kecerdasan rakyat.
"Sebab itu, kami tidak memberi janji yang berlebihan. Cita-cita yang tinggi tidak membuat kami menjual mimpi," ujar Boediono yang semakin piawai berpidato politik.
Di bagian akhir, Boediono masih sempat menyentil soal kecepatan bekerja. Dalam setiap melakukan pekerjaan tidak hanya memerlukan kecepatan, tapi juga tangkas dan seksama. "Kepemimpinan yang efektif tidak sama dengan yang asal terobos dan asal jadi," kata Boediono.
ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews