|
VIVAnews - Beberapa organisasi masyarakat (ormas) Islam menyatakan sikap dalam Pemilu Presiden atau pilpres 2009. Sejumlah ulama dan pimpinan ormas itu difasilitasi Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sebelum menyatakan sikap, mereka menggelar rapat tertutup di lantai 4 Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin, 6 Juli 2009. Rapat tertutup digelar sekitar pukl 14.00 WIB dan dipimpin Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Din Syamsuddin mengatakan, masalah perbaikan Daftar Pemilih Tetap (DPT) belum juga rampung diselesaikan KPU. Dia mengatakan, sebelumnya masing-masing tim TI (Teknologi Informasi) sudah dipanggil KPU.
"Mudah-mudahan beberapa jam lagi MK mengesahkan tuntutan kami, tentang perihal KTP boleh digunakan sebagai identitas untuk mencontreng," ujar Din Syamsuddin sebelum keterangan pers bersama digelar.
Sejumlah Pimpinan ormas Indonesia, menegaskan kembali untuk mendesak pilpres segera ditunda. Sedangkan MUI mengimbau kepada umat agar tidak terpecah belah akan adanya pemilu.
Mengingat sengitnya persaingan tiga pasangan peserta pemilu ini, MUI melihatnya ada potensi kecurangan pemilu. Terkait Fatwa soal Golput haram, MUI masih konsisten akan hal itu. "Untuk itu umat sebaiknya, agar mencontreng," kata Ketua MUI, Amidhan.
Semalam, Din Syamsuddin menjadi fasilitator pertemuan dua capres-cawapres. Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati-Prabowo Subianto bertemu di Kantor Pusat Muhammadiyah untuk membicarakan Pilpres.
ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews