|
VIVAnews - Menguatnya nama Gita Wirjawan sebagai kandidat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengundang kritik sejumlah kalangan. Alasannya, Gita dianggap tidak memiliki rekam jejak di bidang energi.
"Energi itu sektor yang sangat strategis dan penting, banyak masalah yang harus diselesaikan dengan cepat," ujar Pri Agung Rakhmanto, pengamat energi kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2009. "SBY sebaiknya jangan pilih orang masih belajar. Apalagi, birokrasi lamban."
Menurut sumber VIVAnews, Gita digadang-gadang untuk sejumlah posisi, di antaranya adalah Menteri Energi, Menteri BUMN dan Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal.
Dia mengakui Gita memang menjabat Komisaris Pertamina, perusahaan energi terbesar di Indonesia. Gita juga memiliki sejumlah bisnis energi.
Menurut Direktur ReforMiner Institute ini, pengalaman Komisaris Pertamina satu tahun tidak cukup. Tidak bisa dengan pola seperti itu, mampir didrop ke Pertamina kemudian jadi menteri Energi.
Begitupun dengan pengalaman sebagai pebisnis di energi. Dia menekankan, level perusahaan swasta dengan mengurus negara merupakan konteks yang berbeda.
"Menurut saya, isu besar di energi bukan sekedar soal produksi, tetapi juga mencakup isu di hilir dan hulu, termasuk soal isu sensitif seperti subsidi BBM, kontrak kerja production sharing dan lainnya."
Itu belum soal konflik kepentingan. Dia menekankan sebagai pengusaha di energi, konflik kepentingan akan tetap ada. "Misalnya, dia melepas bisnis ke orang lain, apa sih arti sebuah nama dalam perusahaan. Kalau saya kasih ke saudara, berarti bukan tidak berkepentingan."
Dia menjelaskan masih ada yang lebih layak memimpin pos kementerian bidang energi. Dia bisa siapapun, tetapi yang penting sudah familiar, memahami isu energi dan berani eksekusi kebijakan.
"Memimpin perusahaan saja tidak cukup, tetapi juga punya kompetensi teknis," katanya.
Untuk posisi itu, calon lain masih banyak yang lebih layak karena sudah familiar dan tinggal eksekusi. "Misalnya, kalau mau dari Partai ada Hatta Radjasa atau Tjatur Sapto Eddy. Kalau birokrat ada Evita Legowo, dan Luluk Sumiarso."
heri.susanto@vivanews.com