Bursa Kabinet SBY
Nama Anggito Mencuat Gantikan Sri Mulyani
Anggito berperan dalam forum G-20 dan dikenal dekat dengan Boediono.
Kamis, 15 Oktober 2009, 10:43 WIB
Heri Susanto
Anggito Abimanyu (www.telkom.co.id)
PD Bantah Sri Mulyani Calon Kuat Wapres
 

VIVAnews - Menjelang pengumuman anggota kabinet 2009 - 2014, peta posisi menteri mengalami perubahan. Di posisi Menteri Keuangan, nama Sri Mulyani Indrawati yang paling dijagokan rupanya masih belum pasti.

"Sri Mulyani masih fifty-fifty," ujar sumber VIVAnews di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2009.

Menurut dia, yang muncul sekarang adalah Anggito Abimanyu. Dalam detik-detik terakhir penentuan posisi Menteri, nama Anggito mencuat sebagai kandidat terkuat. 

Anggito diperlukan seiring peran Indonesia dalam kancah forum G-20 yang terus menguat. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Presiden SBY menekankan peran Indonesia yang akan meningkat di forum internasional.

"Anggito juga dikenal dekat dengan Wakil Presiden Boediono," kata sumber itu.

Anggito selama ini menjadi wakil pemerintah dalam forum G-20. Anggito juga mewakili Indonesia dalam reformasi lembaga keuangan internasional, seperti Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia.

Anggito saat ini menjabat Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan. Sesuai jabatannya, dia mempunyai kewenangan untuk menentukan kebijakan fiskal pemerintah.

Sebelum menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Anggito adalah staf ahli Departemen Keuangan. Dia semula dikenal luas sebagai ekonom Fakultas Ekonomi UGM, namun ketika Menteri Keuangan dipimpin Boediono, dia mulai banyak berperan. Pada saat itu, dia menjadi Staf Ahli Menteri Keuangan.

Setelah Menteri Keuangan beralih kepada Sri Mulyani, musisi yang dikenal jago meniup Flute (alat musik tiup) itu berganti posisi sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal. Musik bagi Anggito merupakan sumber inspirasi.



Menkeu Sri Mulyani Indrawati saat tiba di Gedung KPK

Selain menjabat eselon satu Depkeu, pria yang dilahirkan di Bogor pada 19 Februari pada 1963 ini sempat memiliki jabatan sebagai komisaris BUMN, seperti di PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Bank Negara Indonesia.

Di bidang akademik, Doktor Ekonomi jebolan University of Pensylvania, Amerika Serikat itu dikenal sebagai pengajar fakultas ekonomi UGM. Saat sibuk sebagai seorang dosen ekonomi, dia kerap menulis kolom dan diwawancarai media massa mengenai suatu kebijakan ekonomi.

Sisi kelemahan Anggito adalah dia sempat tersandung dalam kasus suap program lanjutan pembangunan fasilitas bandara dan pelabuhan di kawasan timur Indonesia. Nilai proyek itu mencapai Rp 100 miliar. Anggito disebut-sebut karena ikut dalam sejumlah pertemuan dengan Panitia Anggaran DPR.

heri.susanto@vivanews.com

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.